Liburan kali ini bisa gw bilang cukup ngedadak karena awalnya tanggal 11-15 Februari gw dan beberapa temen berencana ke Karimun Jawa, tapi karena isu badai dan biaya yang lebih mahal akhirnya trip ke Karimun Jawa gw tunda dulu.
Awalnya gw dan beberapa teman: Hicha, Alus, Stepen dan Chrisna mau backpackingan untuk liburan kali ini. Trip yang kami (red: gw) rencanakan adalah Curug Cikaso- Cirug Cigangsa-Gua Sungging dan berakhir di Ujung Genteng. Berangkat jumat malam dan pulang di senin pagi. Tapi karena bus paling malem ke sukabumi jam 9 dan Elf (minibus) ke Lembur Situ, Surade adanya subuh akhirnya kami putuskan buat nyewa mobil aja, toh hasil perhitungan kasar gw, uang yang dikeluarkan ga jauh beda. Selain itu, jadwal keberangkatan bisa disesuaikan sesuka hati dan kami ga perlu bawa tenda atau sewa penginapan karena kami akan menginap di mobil saja. Hehehe..
Jadilah kami ber5 liburan dengan APV hitam berplat nomor D 1629 XB. Jam 1 malam kami berangkat dari Bandung. Malam banget ya?? Yah, ini karena mesti menanti Alus yang dateng dari jakarta dengan travel jam 8.30 pm. Dia ketinggalan travel yang berangkat sebelumnya. Mau ngga mau harus nungguin dia, karena dia adalah supir perjalanan kami. Yang bisa nyetir cuma Alus sama Stepen, tapi Stepen agak geblek nyetir mobil manual. Di perjalanan abis jemput Chrisna aja kami sampe diklakson dengan tidak hormat sama mobil diblakang karena waktu lampu ijo mobil belum jalan, tau kenapa? karena Stepen lupa masukin gigi. Yahud kan?! Alhasil award untuk ojeg antar kota antar provinsi kali ini jatuh ke tangan Alus sepenuhnya. Dan setelah perjalanan kali ini sepertinya Alus berhak dapat SIM B1. Hahaha..
Sesuai rencana, tujuan pertama adalah Curug Cikaso. Dari hasil ulik-ulik info lewat mister google, kami perkirakan akan sampai disana kira-kira jam 7 pagi. Gw yang bawa peta, lagi-lagi dari mister google, ditempatkan di kursi sebelah supir sebagai navigator, tapi lately peta gw ga guna karena Alus punya gadget yang lebih handal (baca:iPhone) yang bisa buka peta realtime sebagai bantuan arah. Tapi akibat teknologi tinggi itulah perjalanan awal kami ke Cikaso jadi punya cerita yang lebih dasyat.
Setelah sukabumi kami berhenti di SPBU untuk isi bensin. Bertanyalah kami disana kemana arah menuju Curug Cikaso. Dan luckly ada bapak-bapak yang mau jalan ke arah yang sama dan membolehkan kami membuntuti angkotnya. Sambil tetap memperhatikan google map kami mengikuti angkot sang bapak, sampai tiba dipersimpangan. Sang bapak pamit untuk menuju arah berbeda dan menunjukkan arah ke Cikaso. Berjalan sebentar menuju arah yang ditunjukkan tapi ternyata mister google menunjukkan arah berbeda. Berhubung isi mobil ini para engineer yang lebih berpegang pada teknologi, jadilah kami memilih jalan yang ditunjukkan si mister google. Putar arah mobil dan stick on the google’s track. Ternyata jalan yang kami lalui sangat sepi, yaa gw pikir karena ini sudah masuk wilayah pedesaan, tapi anehnya kami tak menemukan Elf yang seharusnya lalu mengantar penumpang dari Sukabumi menuju Lembur Situ, apalagi mobil pribadi, jarang banget,, yaaa mungkin cuma kami yang niat liburan kesana (padahal ini libur yang lumayan panjang loooh, 4 hari). Dengan positive thinking perjalanan kami lanjutkan tetap dengan petunjuk dari sang teknologi.
Sepanjang jalan banyak yang merhatiin, kayaknya jarang banget mobil masuk wilayah yang kami lewati, berasa artis -lebay-. Setelah subuh kami melewati jalan yang dasyat banget, berasa off-road, jalan sempit yang cuma muat satu mobil, berbatu-batu, sangat tidak rata, dibatasi sama rumput dan ilalang pula. Belum lagi jembatan kayu yang menyeramkan. Was-was! Gimana kalo ni mobil nyusruk ke sungai di bawah nya. Rasanya gw udah pengen turun aja dari mobil pas lewat turunan yang berbatu-batu, takut keguling, beneran seraaam. Sampai akhirnya kami menemukan tanjakan super, ada kali 30 derajat, tinggi banget dengan medan yang tetap berbatu-batu. Alus coba jalan tapi ga nanjak, slip, sampe warna hitam karet ban mobil nempel di batunya. Banyak orang yang lalu lalang dan bertanya kami mau kemana. Waktu kami jawab mau ke Curug Cikaso hampir semua orang bilang kalo kami salah jalan. Sebenernya jalan tempat kami berada saat ini nembus ke curugnya, tapi yaa ga bisa dilewati karena medannya yang ga lazim untuk mobil kota, bahkan ada yang bilang jeep pun kesusahan. Akhirnya kami coba mundur untuk kembali ke jalan yang menurut orang-orang sekitar lebih lazim. Mundur pun tetap saja jalannya menanjak, jadi kami seolah-olah berada di dalam lembah. Walau elevasinya lebih rendah tetap aja mobil ini ga berhasil mundur, lagi-lagi slip. Dengan muka cemberut karena capek dan kesal kami duduk-duduk di pinggir jalan sambil menunggu pak Jamso yang, lagi-lagi kata orang sekitar, jago nyetirnya. Biasanya dia bisa ‘menyelamatkan’ mobil-mobil yang tersesat seperti kami ini. Aghhh kesal, sepertinya jalan yang ditunjukkan sama bapak-bapak supir angkot malam itu adalah jalan yang lebih layak buat dilalui. Mungkin jaraknya lebih jauh makanya si mister google mengarahkan kami ke jalan ini.
Belum juga pak Jamso dateng, ada seorang bapak-bapak sotoy yang buat masalah. Dia mau coba ngedrive, eeeeh belum juga sampe kursi setir dia udah berhasil bikin kami kesal. Dengan sotoy nya dia masukin kunci ke pintu mobil dan jengjong kuncinya ga bisa dicabut! Tu mobil emang kuncinya macet dan mesti di buka tutup pake remote!! Dengan susah payah -lebay- dan tampang kesal akhirnya Alus berhasil mencabut kunci mobilnya.
Cukup lama kami menunggu, akhirnya datanglah seorang bapak berperawakan tambun dan tidak terlalu tinggi. Dialah Pak Jamso, yang akan menjadi penyelamat perjalanan kami menuju ujung genteng. Ternyata berita tentang kehandalannya bukan isapan jempol semata. Waktu dia ambil alih setir mobil, sekali jalan dia langsung berhasil memundurkan mobil dan memutar arah di sepetak lahan sempit. Dasyatnya lah ni bapak membuat liburan kami terselamatkan. Masih belum mood untuk kembali nyetir akhirnya kami minta tolong bapaknya untuk sekalian mengantarkan kami ke Curug Cikaso, nyetirin mobil ngegantiin Alus untuk sementara. Bapaknya setuju, namun kami masih belum sepakat dengan curug yang dimaksud. Merefer ke photo yang gw liat di internet, gw bilang kalo curug yang ingin kami datangi itu curug yang air terjunnya 3. Bapaknya masih bingung karena ada beberapa curug dan bilang kalo mungkin yang dimaksud itu curug Luhur yang sedang dibangun sama Korea untuk wind turbine. Dengan sotoynya gw mengiyakan, karena seingat gw, gw pernah baca kalo ada curug yang lebih dikenal dengan nama Curug Luhur. Akhirnya kami diantarkan oleh Pak Jamso ke Curug Luhur dengan berbalik arah.
Dengan skillnya, Pak Jamso mengantarkan kami ke curug Luhur tanpa hambatan. Aneh, tempat ini bukan seperti tempat wisata, sepi sunyi ga ada rame2nya. Dari sumber yang gw baca, kami harus naik perahu 5-10 menit atau jalan kaki sekitar 30 menit untuk sampai di curugnya. Ekspektasi gw adalah gw bakal ngeliat curug dengan air terjun 3 sumber. Ternyata tidak.. Beda sama sekali, ini adalah curug bertingkat yang untuk sampai disana kami harus menyusuri jalan menurun yang sangat curam. Akhirnya, mobil kami parkir dan kami berjalan kaki mendekati air terjun yang rupanya seperti ini :
Karena medan tidak begitu bersahabat, akhirnya kami harus puas dengan tidak menyantroni langsung air terjunnya, cuma foto-foto jarak jauh aja. Kembali ke mobil dan kami putuskan untuk langsung menuju Ujung Genteng. Sudah jam 12 an, perut lapar, capek, tapi melihat pantai aja belum. Perjalanan tetap harus tetap dilanjutkan. Alus kembali menjadi driver, karena pak Jamso ga bisa mengantarkan kami lebih jauh lagi. Tapi sekarang mood Alus sudah kembali normal, bahkan kami sempat berhenti di hutan dalam perjalanan menuju Ujung Genteng dan berfoto-foto, teuteeep, exist is a must.
–bersambung


