Lama ga nulis blog, akhirnya gw kembali. Merasa berhutang karena terlanjur menuliskan kata bersambung di postingan tentang perjalanan ke Ujung Genteng sebelumnya.
12 Februari 2011
Setelah bersusah susah akhirnya sekitar jam 4 sore itu kami berhasil melihat birunya pantai di pinggiran Jawa Barat ini. Lelah! Tentu saja kami segera mencari tempat untuk beristirahat. Lebih tepatnya tempat beristirahat untuk trip hero hari ini, APV hitam. Sesuai kesepakatan sbelumnya, untuk menghemat biaya, kami tidak akan menyewa penginapan, bantalan empuk kursi mobil dirasa cukup. Ngirit! hahaha.. Melepas lelah, kami sejenak duduk-duduk dan berfoto di pinggir pantai setelah mendapatkan pekarangan sebuah rumah penduduk setempat. Pekarangannya cukup luas, dekat dengan bibir pantai dan yang paling penting tidak jauh dari WC umum. Gw lupa nama ibu yang punya, Landa, Muanda, aghhh ga ngangkut namanya di otak gw, I didn’t really pay attention waktu seorang bapak2 menyebutkan namanya. Yasudahlah ya, sebut saja ibu X.. Setelah minta izin parkir dengan si ibu, akhirnya kami duduk2 dekat ayunan pinggir pantai disamping rumahnya sambil melepas lelah. Aghh, akhirnya! Kami pun bermain-main dipinggir pantai sambil ngumpulin kerang. Alus paling niat milihin kerang dan spons buat oleh-oleh teman gebetannya yang berinisial D, asiiik!! ngambil hati temen gebetan biar disupport, ahahahay.. Gw sih juga ngumpulin buat oleh-oleh ke Della sama Riki yang pernah nyari2 kerang buat prakarya kayaknya. Niatnya tu kerang-kerang bakal gw taro dalam gelas atau cup yang udah diselipin foto2 perjalanan pantai gw, sekalian pamer. Hahaha.. Tapi sampai sekarang belum gw kasiin, karena fotonya belum gw print..
Sudah sore, kami pun harus bersiap mencari makan malam, tapi akhirnya kami minta tolong ke ibu X buat ngebakarin ikan aja, lebih gampang.. Ikannya bisa milih, dibeli dipelelangan ikan, tapi yang jelas ikan laut. Harganya pun berbeda-beda tergantung jenisnya.
Saat itu seingat gw, sekitar jam 5 sore! Sambil menunggu makan malam kami menyusur pantai, airnya jernih dan hijau kelihatan karang-karang dan batu-batu kecil di dasarnya. Sambil berjalan kami mencari kelapa muda yang akhirnya kami temukan di warung yang tidak terlalu jauh dari ‘penginapan’. Menyeruput kelapa muda di pinggir pantai, ehmm nikmat dan segar!! Disana kami ditawari untuk melihat pelepasan penyu sore itu di Pantai Pangumbahan, biasanya mulai jam 5.30 pm. Kesana bisa naik ojeg dan bayar 40 ribu/orang. Kemahalan.. kami tawar 25 ribu, tukang ojegnya ga mau, hahaha.. Dia bilang tempatnya lumayan jauh sekitar 6 kiloan dan tracknya agak sulit, 15 menitan pake ojeg, kalo jalan kaki bisa 3 jam-an. Kalo pake mobil kasian mobilnya nanti baret-baret lewat semak belukar, katanya Chrisna. Dia udah pernah kesana sebelumnya. Lagian sudah cukup menderita APV ini. Dan mendengar kata sulit yang dibubuhkan untuk tracknya gw rada parno karna kedasyatan perjalanan menuju ujung genteng hari itu. Akhirnya diputuskan besok aja ke Pangumbahan dengan jalan kaki, ahahahay.
Sore itu kami habiskan dipinggir pantai, bermain dengan air sambil menunggu sunset muncul. Tentunya sambil foto-foto donk! It’s a must! For our existence. Meminjam istilah kaskus No photo=HOAX! Beberapa fotografer pun sudah standby dengan kamera ‘teropong’nya menanti waktu yang tepat buat mengabadikan indahnya sunset di pantai ujung genteng.
Makan malam pertama di ujung genteng. Menu hari itu adalah ikan kakap bakar. Yaiy!! 1 kilo ikan kakap, sambal kecap dan nasi putih.. tidak lagi hangat karena terlalu lama menunggu kami main, mandi dan sholat dulu. Tapi makan apapun disaat lapar terasa begitu nikmat. Thanks God. Allahumma barik lana fima rozaktana wakina azabannar.. Nyam, nyam, nyammi!
Setelah makan malam kami berencana melihat penyu bertelur. Nekad berangkat dengan mobil. Sampe di pintu masuk jalan menuju penyu2 bertelur kami bertanya ke seorang mas-mas yang nantinya akan jadi musuh Alus
. Dia nawarin buat pake guide, kami menolak, karena kata tukang ojeg di warung tadi sore guide fee nya 100rb. Hahaha.. ga rela buat ngeluarin uang segitu yang memang ntar ketauan itu ga worth it, base on my own opinion yah. Setelah ditunjukkan jalannya dan berjalan beberapa meter, mas-mas yang tadi nawarin guide memacu motornya dengan kencang dan gas to the max, terkesan nantangin.. Si Alus, sang driver, dengan six sensenya bilang ‘Perasaan gw ga enak, niy. Ga jadi aja lah ya.’ Akhirnya kami putuskan acara melihat penyu bertelur hari itu dibatalkan. Balik arah dan kembali ke posisi ‘penginapan’. Malam itu hanya kami habiskan dengan tidur hingga subuh esok harinya. -____-”
13 Februari 2011
Ritual pagi seperti biasa, bangun sholat, ngamplai2, mandi, sarapan. Selanjutnya kami bersiap untuk menyusuri pantai sampai ke Pangumbahan untuk melihat penyu bertelur, sorenya. Karena kami kira jalannya sangat jauh, kami berangkat jam 9 pagi. Emang ga ada kerjaan juga sih. Berbekal aq*a dan sedikit makanan kami mulai berjalan.
Awalnya senang2 aja, tapi selanjutnya, do’oh! panasnya menyengat.. Saran gw buat yang mau jalan jauh menyusur pantai, jangan pake sandal jepit karena bisa mengakibatkan luka parah *lebai* di sela jempol dan jari telunjuk kaki. Padahal lecet doank! Karena punya banyak waktu kami jalannya pun santai aja.. pake brenti2 sesuka hati, nyariin kerang dan foto2 *teuteup*. Diperjalanan gw sempat liat ikan kembung, sebenernya ga tau namanya ikan apa, tapi karena perutnya kembung banget jadilah gw bilang ikan kembung.
Sebelum berhenti kami, minus Alus, menyebrang pantai yang tingginya sedada.. seru sih basah2an, tapi Alus ga mau ikutan, hahaha.. cupu
. Karena capek kami berhenti sebentar di bale2 bambu *lebai, padahal kursi bambu doank*, makan, minum dan boker (khusus Alus). Setelah dirasa cukup beristirahat, perjalanan kami lanjutkan. Lagi, menyusur pantai.
Ternyata, pemberhentian sebelumnya adalah tempat terakhir yang jual makanan dan minuman,, sementara persediaan kami habis. Yang bisa dimakan cuma permen. Karena tengah hari, panas banget di pinggir pantai, kami memutuskan untuk istirahat lagi. Kali ini kami menumpang di menara penginapan baru. Beruntung, bapaknya baik dan mengizinkan kami untuk ikut beristirahat di menara bertingkatnya. Karena capek dan angin pinggir pantai yang sepoi2, kami sempat2 nya tidur di menara itu. Hahaha, udah nebeng, ngotorin menaranya sama pasir, numpang tidur siang lagi. Tapi kami cukup tau diri untuk tidak minta makan siang
Hasil bercakap2 dengan bapak penjaga, kami tau kalo tujuan kami tidak begitu jauh lagi. Yossssh!
Perjalanan pun kami lanjutkan, dan akhirnya kami sampai ke pos penjagaan penyu. Akhirnyaaa!! Tapi, itu masih jam 2 siang sedang pelepasan penyu baru akan dimulai jam 5 sore. Sweat!!! Lengkap lah sudah, panas, lapar, capek! Dan disana ga ada yang jual makanan.. Mau balik lagi ke ‘penginapan’ jauh!! Argghhh! Akhirnya kami putuskan untuk tidur2an dan beristirahat saja. Sialnya, pas lagi enak tidur2an, kami dikagetkan dengan munculnya reptil sejenis kadal di atap pos penyu. Dan spontan gw melompat ke pasir disambut ketawa puasnya Alus. Sial!! *padahal gw ga liat kadalnya, kaget doank*
***
The power of sholat.. Abis zuhuran akhirnya kami menemukan solusi perut lapar yang sudah bergejolak sejak tadi. Ada bapak-bapak penjaga penakaran penyu yang mau ke ‘kota’ *halah*.. maksudnya ke daerah peradaban yang jual makanan dengan motor. Akhirnya dibadak2in mukanya buat numpang nebeng beli makan. But even more dia mau ngebawain mobil kita biar nanti pulangnya ga usah jalan kaki. Deal! Gw beli makan bareng dia dan pulang ke penakaran penyu dengan motor, sementara dia pake mobilnya. Dan ternyata ga begitu jauh dan ga begitu sulit. Selama ini ternyata gw dan temen-temen parno doank ternyata.. Jalannya cingcai.
Padahal mau ngelepas penyu doank, tapi perjuangannya hidup dan mati *lebai* Sedikit penjelasan tentang aktivitas di penakaran penyu..
- Penyu datang ke tepi pantai tengah malam biasanya, bertelur. Jumlahnya saat ini udah ga terlalu banyak, nyaris punah makanya dilindungi. Sekali bertelur bisa sampe 100an yang dikeluarin.
- Nah, telur2 penyu ini diselamatkan sama petugas2 di penakaran, biasanya suka ada yang nyolong karena dijual cukup mahal. Dikubur di area khusus yang dikasih tanda dengan tulisan tanggal masing-masing telur dikeluarkan.
- Kira-kira 3 bulan, telurnya bakal menetaskan anak-anak penyu. Biasanya ada sedikit lubang dipermukaan tanah, tanda kalo mereka sudah layak dilepaskan. Tapi kalo cangkangnya masih terlalu lunak, penyu nya dikubur lagi,, didiamkan beberapa hari lagi supaya siap struggling di laut lepas.
Epik banget, menyaksikan penyu kecil mengibas-ngibaskan sirip menuju ke samudera. Bak anak muda yang merantau ke negeri antah berantah. Very nice! Sambil menunggu matahari terbenam, kami bermain sejenak di pinggir pantai, akhirnya perjuangan untuk ikut melepaskan penyu terlaksana.










