July 30, 2016

Eling and the deadly lighthouse (Part 1)

23 Desember, hari ke 5 perjalanan gw ke Scotland menjadi hari yang bersejarah buat gw. Sejak 2014, tanggal 23 Desember gw daulat sebagai hari “anti-ombak-untuk-Eling. Kenapa??? Jawabannya ada di cerita berikut yang harus dibaca dengan background musik thriller. Jeng jeng jeng jeng….

Perjalanan ini berawal di Glasgow, 19 Desember, tepat di hari pengumpulan progress report tesis untuk Group Desain Project gw. Setelah pagi hari mengumpulkan laporan,  gw dan Fari, yang sama-sama kuliah di Cranfield, menyusul teman-teman lainnya yang sudah lebih dahulu memulai road trip dari Southampton. Total kami sembilan orang; Fari, Ollie, Aldo, Andaru, Faisal, Danu, Tafta, Iqbal, dan gw sendiri. Dengan 2 mobil sewaan, kami berencana menyusur dataran tinggi Britania Raya mencari salju. FYI, SIM Indonesia diakui selama setahun di UK, dengan catatan SIMnya belum expired :P. Seperti perjalanan-perjalanan gw lainnya, kali ini pun tak luput dari drama. Bahkan sejak awal keberangkatan.

Di UK, gw tinggal di desa. Saking desanya kalo sore kedengaran sapi yang meng-moooooo dari sebrang jalan. Pun setiap pagi sebelum jam 9 masih terlihat tupai lelompatan di pekarangan depan flat gw. Konsekuensinya, gw harus menempuh perjalanan bus selama 40 menit untuk sampai ke stasiun kereta terdekat di Milton Keynes. Dan bus ini hanya ada setiap 30 menit. Kereta gw akan bertolak ke Glasgow jam 3 sore. Artinya gw harus naik bus jam 13.50 agar tidak terlambat. Bus setelahnya akan terlalu mepet dengan waktu keberangkatan. Ga memungkinkan, terlebih gw dan Fari belum ngeprint tiket kereta.

Sehari sebelumnya, salah satu classmate gw yang tajir nawarin buat nganterin ke stasiun dengan mobilnya. Namanya danisy*ar blablabla, susah banget, tapi cukup dipanggil Alex. Ntah dari mana datangnya panggilan ini. Tapi sejak pertama ketemu di hari registrasi mahasiswa baru, dia memperkenalkan diri dengan nama Alex. Well, whatever. Anyway, kalau kita berkendara lewat jalan pintas yang bukan rute standar bus, perjalanan ke stasiun bisa ditempuh hanya dalam 15-20 menit. Akhirnya gw, Fari dan Alex janjian ketemu jam 2 esoknya di halte bus. Satu jam sebelumnya gw konfirmasi lagi kemurahan hatinya Alex lewat email. Di jaman perkembangan sosmed begini, komunikasi dengan tentara ostrali tetap harus resmi. Jadi ya, mesti lewat email. Joking! Yang sebenarnya adalah sudah 1 minggu ini gw ga punya HP. Rusak, karena ga sengaja kelempar dari kantong hoodie. Udah sering jatoh sih, tapi kali ini hapenya lelah ga sanggup hidup lagi. Jadilah gw bisa tenang dan fokus ngerjain progress repot yang sudah deadline, ga ada yang berisik tung tang ting tung di WhatsApp. Padahal ga ada yang ngehubungin juga.

Continue reading

Advertisements
July 19, 2016

I flew an aircraft and it’s awesome!

Since my undergrad, I always been fascinating a flying laboratory. Heard from my senior, it was an amazing experience to fly with Gelatik aircraft as part of flight performance module in ITB. But, 5 years before I enrole the university, it was stopped due to maintenance or maybe funding issue, legal, and other reasons. I don’t exactly know, but the aircraft is now located in Indonesian Aerospace as a display in flight test hangar. One of the reason I chose Cranfield University to study MSc is the offer of flying experience with their aircraft. It is Cranfield National Flying Laboratory Centre (NFLC) that owns and operates number of aircrafts which are available for students on particular MSc programmes, including mine. Each of students usually got 2 flights with Slingsby and 1 flight with Jetstream aircraft. It is part of the programme to let the designer got the picture of what exactly they are designing. In my course, before dealing with those two Slingsby flight you have to take care of two theses. Pretty fair, isn’t it? Two flight with two theses, group project  and individual thesis. At November 3rd, last year, exactly on my birthday, I book one flight with Slingsby, an aerobatic aircraft, two-seater with side by side arrangement. It is a monoplane with tri-cycle landing gear arrangement. Excuse me for those words, you can see the yellow Slingsby below.

Continue reading

November 30, 2015

Timur Indonesia

Sebenernya ini bakal submission gw buat seleksi program Menyapa Negeriku. Disuruh ceritakan dengan ‘singkat’ tentang pengalamanan mengunjungi daerah di Indonesia. Berhubung gw ga tau kalo batas waktu pendaftarannya dimajukan seminggu, jadilah gw batal submit. Daripada mubazir mending di publish di sini aja 😀

Saya suka berjalan-jalan, mengujungi tempat baru yang belum pernah saya hampiri sebelumnya. Tak peduli pantai, gunung, kota ataupun desa, masing-masing punya daya tarik tersendiri. Sering kali saya berpergian bersama teman-teman yang juga memiliki hobi serupa. Namun sendiri pun tak mengurungkan niat saya untuk travelling. Mengutip sebuah quote yang mengatakan bahwa ‘travel is the only thing you buy that makes you richer’. Saya sependapat. Travelling adalah investasi yang membuat saya kaya akan pengalaman dan wawasan. Seperti halnya Semeru yang mengajarkan saya semangat pantang menyerah, Wakatobi yang mengajarkan toleransi dan ketegaran, Selayar yang mengajarkan saya untuk berani dan berpikir positif, serta Rinjani yang mengajarkan saya empati dan bertahan hidup. Tidak hanya menikmati indahnya nusantara, tapi semua perjalanan pasti mengajarkan saya berteman dan berbaur.

Pertengahan 2013 saya melakukan perjalanan ke Kepulauan Lesser Sunda selama 2 minggu bersama 9 teman lainnya. Kami menyusur daratan Bali hingga Ende. Dari Bali kami menyebrang ke Kenawa, pulau tak berpenghuni yang berjarak 20 menit dari pelabuhan Pototano dengan kapal penduduk. Snorkeling di laut lepas, makan siang dengan ikan hasil bakaran sendiri dan berburu pemandangan malam di bawah langit Kenawa yang cerah dan penuh bintang, jauh dari polusi.

Continue reading

November 9, 2015

Skydiving: Checked!

Di postingan sebelumnya gw udah bilang kalo trip tiga negara gw salah satunya diisi pengalaman skydiving. Buat yang belum tau, simpelnya skydiving itu terjun dari pesawat terus mendarat pake parasut. Kalo mau definisi yang tepat dan lebih deskriptif silahkan pake jasa Google. Hasrat pengen skydiving sebenernya udah dipupuk sejak dipamerin si Stepen beberapa waktu silam. Sejak saat itu, skydiving is on my long to-do-list. Yang gw bilang list adalah daftar hal-hal yang berkecimpung di dalam khayal dan angan-angan. Ga bener2 ada daftar tulisan sebenernya :D. Tapi akhirnya satu lagi achivement yang gw tuntaskan di perjalanan ke Eropa kali ini. Sengaja nyari operator skydiving di tiga negara; Belanda, Belgia, Prancis, dan pilihannya jatuh ke Spa Skydiving di Belgia. Alesannya karena websitenya bagus dan berbahasa Inggris, difasilitasi dengan daftar online, available di tanggal yang gw mau dan yang paling penting adalah murah. Sekitar £190 untuk paket skydiving termasuk video. Jauh lebih murah dibandingkan skydiving di UK untuk paket yang sama, £300, dan termurah diantara operator lainnya sepanjang penulusuran gw di dunia maya. *salim mbah Google*

Hari pertama di Belgia kami; gw, Alus, Ollie; habiskan buat ngiterin kota Brussel, cari wafel, beli coklat dan bertemu patung anak kecil pipis yang kecil banget. Beyond expectation, not a good one. Ya wisatanya ga ambisius, nyantai biar ga capek. Yang penting highlight nya dapet, skydiving. Perjalanan dari Brussel, ibukota, menuju ke Spa memakan waktu 2 jam dengan kereta dilanjutkan dengan taxi yang mungkin cuma satu-satunya. Ga banyak taxi nongkrong di stasiun sepi ini, bahkan kami harus janjian untuk dijemput lagi setelah selesai skydive. Spa ini memang kota kecil tapi juga salah satu tuan rumah balapan F1, Circuit de Spa-Francorchamps. Sayang pas kesana ga sempat mampir liat-liat, kali aja ketemu Hamilton atau Raikonnen. Wink! Katanya sih kota ini juga asal muasal spa yang populer di salon-salon kecantikan saat ini.

Continue reading

August 5, 2015

19 jam puasa? Beres!

Mumpung masih bulan Syawal ga telat2 banget lah kalo gw mau cerita tentang pengalaman puasa gw tahun ini. Berhubung lagi kuliah di Cranfield jadi puasanya ala-ala Eropa, asoooi! Tapi puasa hari pertama gw malah ga di UK.

Udah dari 6 tahun yang lalu gw pengen ke Paris Air Show, event air show terbesar di Eropa. Dulu mimpinya jaman kuliah buat lolos ke babak final FYI Airbus dan presentasi di Paris Air Show, tapi apa daya group gw gagal di babak kedua dan ga masuk 5 besar. Finally 2015 ini, mumpung lagi di UK sekalian aja menuntaskan salah satu tujuan hidup anak PN *yakali*. Ga cuma ke paris Air Show tentu saja, rugi udah ngurus Schengen £70 tapi cuma dipake sehari doank ke sana. Maaf anaknya itungan sekarang tabungan lagi kritis :P. Jadilah gw trip ke timur Eropa menjejal tiga negara sekalian ketemu beberapa temen baru dan lama. Belanda, Belgia, dan berakhir di Paris. Tapi postingan sayangnya bukan buat pamer acara liburan summer gw yang ga inget thesis. Lebih solehah, tentang pengalaman puasa di musim panas.

Berhubung Paris Air Show dibuka untuk umum tanggal  19 Juni dan puasa dimulai sehari sebelumnya, sudah barang tentu jalan-jalan gw yang dimulai 14 Juni bakal mendapati masa2 awal puasa. Yaaah, bayangan cuaca summer yang panas, matahari 19 jam, dan minuman dingin pas lagi jalan-jalan tentulah menghantui bakal pengalaman puasa pertama gw di Eropa. Dan ternyata itu masih bisa lebih buruk lagi. Continue reading

May 15, 2015

Penghuni baru L15B

Dua minggu yang lalu, flat gw kedatangan satu lagi anak baru ngegantiin si Chris yang ikutan program Erasmus buat tesis di Berlin. Si mba2 chinese ini sebenernya teman sejurusan si Chris yang pindah dari Chilver ke Lanchester hall karena sewanya lebih murah. Gw baru ketemu si mbanya setelah seminggu dia pindahan karena ada ribut2 di dapur yang ternyata lemari makanannya diubek2 tikus. Sebenernya gw ga tau nama si mba ini sapa. Aslinya lupa. Pas ribut2 di dapur sempat nanya namanya tapi ya berhubung nama china jadi susah diingat. Entah si mbanya pemalu ato emang ga mau gahul sama anak2 sekosan dia pun jarang ngobrol sama yang lain. Deduksinya begini:

  1. Anak sekosan ga ada yang tau namanya siapa –> nah kan
  2. Agga bilang “she doesnt talk to me, I dont talk to her either” –> egoisme wanita
  3. Lewis curhat kalo dia ketemu anak2 chinese tak dikenal tigaan di dapur tapi mereka ga ngenalinin diri –> wajar sih dapur lo dikuasai anak baru dan ga ada basi-basinya kan kesel.
  4. Tapi pas gw cerita sama Lili, classmate yang katanya mirip gw, mba-mba china biasanya pemalu karena bahasa inggrisnya ga lancar –> ya gw juga belepotan inggrisnya, sok2an aja

Ya biarlah nama mbanya menjadi misteri. Nah yang kocak adalah sih tikusnya baru nonggol setelah mbanya datang. Continue reading

November 30, 2014

Well, LPDP’s awardee meets Cranfield

Kali ini gw bakal cerita tentang beasiswa LPDP. Banyak teman yang nanya gimana caranya bisa disponsorin ke Cranfield University yang ga ada di list LPDP. Dari pada capek ngejelasin berulang-ulang mending ntar mereka disuruh refer ke blog gw aja, biar sekalian nambah statistik pembaca blog #penting.

Awalnya gw ga tertarik daftar LPDP karena beasiswanya ga mencantumkan nama Cranfield di universitas pilihan. Secara gw udah cinta mati sama universitas ini. Hahaha. Gw keterima di Cranfield dari tahun 2013, tapi karena ga lolos beasiswa Chevening tahun lalu, akhirnya enrollment gw tunda 1 tahun. Sampai akhirnya gw nemu tulisan salah satu awardee di blog ini: Ridwanologi. Dia bilang kalo ada salah satu temannya yang bisa mengajukan surat permohonan pindah universitas ke Cranfield University. WoW!! Dan di sini gw ketemu sama mas-mas yang diceritain di blognya dia. Namanya Arie Wibowo, karyawan GMF yang lagi studi Ph.D di School of Applied Science, Cranfield.

Akhirnya gw ikutin lah tips dan trik yang ada di blog itu. Gw submit aplikasi untuk LPDP dengan pilihan yang serupa tapi tak sama di University of Manchester yaitu Aerospace Engineering. Gw apply juga ke Manchester buat dapat Letter of Acceptance (LoA). Sebenernya kalo yang emang niat ke Cranfield kayaknya ga usah cari LoA cadangan, cuma karena gw skeptik *kebiasaan* jadilah pegang 2 LoA untuk daftar LPDP. Gw unduh dua LoA biar gaya, sok iye gitu keterima dimana-mana *pletaaaaak*. Di rencana studi gw jelasin kenapa gw pengen banget ke Cranfield dan sedikit curhat kenapa universitas ini ga masuk list LPDP, padahal reputasinya buat Aerospace dan Managementnya sangat bagus. Disini ga ada program sarjana, cuma melayani program post-graduate aja. Jadi ya sepertinya sulit buat masuk ranking-rankingan yang mainstream beredar di dunia maya.

Agak drama sih waktu proses aplikasi dokumen karena Continue reading

October 8, 2014

About rendang and my food-hunting series

7th October 2014

Before I write my experience about Ied Adha in Cranfield, I really want to share about today’s menu. It’s a big day, I ate rendang as celebration of getting rice cooker from Pak Benny. Yay. First rice that I cooked has to be coupled with something special, and it is rendang, spicy meat dish from Padang, Indonesia. It is on the 1st list of world’s 50 best foods according to CNNGo readers. British, you gotta tastes it!

Previously, I’ve wrote about rice curry, and beside that I only got – let’s say plain lunch. Yesterday, I had wedges as lunch and today I have plain bagels with smoked salmon and scrambled egg. It will not be too much if I say that my life is plain without chili sauce because it does represent my lunch these day. No chili sauce. Plain! British is not really like hot dishes, I guess.

Let me list my food-hunting-series so far:

Continue reading